Bertumbuh tanpa tumpuan sangat menyakitkan. Semua berawal dari awal dan harus dirasakan pedihnya. Namun, kurasa semangat membara mendengar kata-katanya. Nyanyian indah membawaku melambungkan angan yang selama ini tak mampu ku kejar. Dia… mampu membuatku menyalin untaian masa depan. Dia… mampu meyakinkanku akan hari yang cerah. Dia… sangat berarti. Hanya itu yang paling pas untuknya. Sangat berarti.
Terluka adalah saat dimana dia yang “sangat berarti” kulihat begitu putus asa. Hei, bukankah kau yang mengajariku untuk tersenyum? Bukankah kau yang membuatku bangkit saat aku tak mampu lagi berjalan? Mengapa kau yang menyerah kali ini?
Terluka adalah saat kau dan dia yang “sangat berarti” berjuang bersama. Mempersiapkan hati dan mental untuk sebuah peperangan. Namun, pada akhirnya, kenyataan mengatakan bahwa hanya kamu yang bisa lolos. Dia tertinggal di belakangmu.
Terluka adalah saat kau mendapat berita bahagia namun dia yang “sangat berarti tidak bahagia dengan berita itu. Dia merintih dan merasa gagal saat kau bahagia.
Terluka adalah saat senyumnya memudar padahal kau sedang girang. Apalah arti bahagia jika dia dan mereka yang bersamamu tidak dapat ikut bahagia?
Melihatnya menyerah seakan membawaku ke masa kelam dahulu. Saat itu, dia yang memberi harapan. Tak putus-putusnya meyakinkanku akan kesempatan hidup yang besar. Tak mampu kulangkahkan suatu tindakan. Ku tak tau bagaimana mengangkatnya lagi, karena, akulah penyebabnya jatuh.
Kembalilah kuat! Gariskan senyum yang tanpa cela itu! Lukiskan mimpimu di angan angkasa! Ku tau, tak seorangpun mampu menghentikanmu. Jiwa yang luar biasa dan terasah. Kamu pasti bisa! PASTI! Hanya doa yang mampu kuberikan untukmu. Kumohon, maafkan aku…
Untukmu yang lupa cara tersenyum saat ini, bangkitlah!
Kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi adalah kebahagian sejati-A.R