Suatu hari, aku menonton pelombaan di dekat rumah bude ku. Bekas-bekas hujan masih turun membasahi jalan. Karena sudah malam, aku pulang bersama om ku. Saat di jalan, semakin menuju rumahku, hujan semakin deras. Om ku tampak kedinginan dengan kaos tipis nya. Saat sampai di jalan gang rumahku, aku terpana, tidak menyangka. Seorang bapak sedang menengadahkan gelasnya di bawah tempias air dari atap rumahnya (Rumah itu tak patut disebut rumah. Luasnya hanya 3 x 3 meter dan dindingnya berasal dari triplek). Setelah itu, sang bapak meminumkannya kepada seorang anak kecil bertubuh kurus. Anak itu pastilah anaknya. Seperti inikah kehidupan mereka? Tidak mampu menikmati air bersih? Selama ini aku tidak pernah sadar tentang mereka. Sebegitu tidak pedulinya aku terhadap lingkunganku. Ternyata, gak cuma di luar sana. Tapi juga di dekatku, di sampingku, di depanku, ada orang-orang yang kekurangan. Tapi aku tak pernah melihatnya. Ohh, sungguh malang. Padahal untuk bersyukur saja, kadang aku tidak bisa. Bagaimana jika aku seperti mereka?
Mereka adalah orang-orang HEBAT dengan hati yang berjiwa besar.
Kawan-kawan,
Berjuanglah..TUHAN slalu menyertai kalian. :-)
Selasa, 07 September 2010
Minggu, 05 September 2010
Kenapa ?
There is a story..
Drrt..drrt..
Hpku tiba-tiba bergetar. Ada sms dari Tania.
"Lis, km dmana? Udah mw mlai ni!"
Aku mengetik balasannya.
"hah? Iya kah? Kupikir jam12. Bentar deh ku ke sana."
Aku lalu memanggil Devi dan beberapa teman lain untuk pergi ke kelas 10-E.
Di sekolah ku setiap minggu biasanya diadakan kegiatan untuk siswa/i Kristen Protestan dan kristen katolik: ibadah.
Kami biasanya meminjam kelas 10-E dan hal ini sudah diketahui dan ditanggapi baik oleh pihak sekolah sehingga kegiatan kami berjalan lancar.
........
Setelah beberapa saat kami pun menuju 10-E. Di sana sudah ada Tania dan beberapa kakak kelas kami yang sedang latihan musik.
Cukup lama kami menunggu hingga kegiatan akhirnya dimulai.
"Lis, kok perasaanku nda enak ya?"
"Mungkin cuma perasaanmu aja kali."ucapku mencoba menenangkan
Sepanjang ibadah kami bernyanyi begitu bersemangat.
Di sela-sela kegiatan terkadang ada orang-orang lewat.
"kelas sebelah lagi dibaikin."pikirku tak acuh
Setelah cukup lama bernyanyi bersama, kegiatan inti dimulai.
Saat pertengahan: diskusi, tiba-tiba seorang bapak a.k.a guru datang. Dia lalu berteriak-teriak kepada kami.
"Cepat keluar sekarang. Kalian pakai ruangan ini seenaknya. Tanpa seizin saya. Sudah pulangan daritadi masih juga di sini. Kalau mau ada kegiatan izin sama saya. Cepat keluar. Daritadi nyanyi-nyanyi, ribut-ribut saya biarkan aja dulu. Tau tidak apa yang kalian lakukan ini? Kalian MENCURI!! (NB: baca dengan penekanan tinggi). Mencuri waktu dan tempat. Ayo cepat angkat kaki kalian!"
Beberapa saat kami terdiam.
Kami semua sama-sama kaget dan bertanya-tanya dalam hati.
Bapak itu terus melanjutkan ceramahnya saat kami tidak juga berkutik.
Lalu perlahan kami keluar satu per satu dalam bingung.
"kenapa sih ini, aneh betul?"tanyaku pada Tania yang juga kebingungan.
Aku ingin sekali protes, tapi aku sendiri tidak tau-menahu tentang izin yang dibicarakan karena aku anak baru di sekolahku.
"Tan, ayo sudah kita keluar aja."ucap Nana
"Bapaknya kan suruh angkat kaki. Nih udah."jawab Tania kesal namun akhirnya beranjak keluar.
Bapak itu TERUUUS saja mengoceh ini-itu. Tidak jelas apa yang dikatakannya. Kami berjalan turun dengan berbagai tanda-tanya besar.
Kenapa kami diusir?
Apa benar kakak-kakaknya belum izin?
Tidak bisakah kami DIBERITAHU BAIK-BAIK?
Tidak bisakah bapak itu melihat apa yang sedang kami lakukan?
Sejak kapan diskriminasi mulai menjulang tinggi?
Hatiku terasa sangat kesal. Begitu juga teman-temanku.
Sesampainya di bawah, kakak2 kelas kami mengatakan bahwa kegiatan kami sudah mendapat izin resmi. Tidak ada yang ilegal. Mendengar itu, aku semakin bingung, kesal, marah, sebal. Kami saling bertanya-tanya satu sama lain tentang kejadian tadi. Kakak2 kelas mengatakan agar kami tidak patah semangat. Saat kami mengobrol, Devi dan Nana menyatakan kekesalan mereka. Betapa kami tidak dihargai. Akhirnya, kami pulang dengan tampang mendung. Baru kali ini aku DIUSIR.
-THE END-
Drrt..drrt..
Hpku tiba-tiba bergetar. Ada sms dari Tania.
"Lis, km dmana? Udah mw mlai ni!"
Aku mengetik balasannya.
"hah? Iya kah? Kupikir jam12. Bentar deh ku ke sana."
Aku lalu memanggil Devi dan beberapa teman lain untuk pergi ke kelas 10-E.
Di sekolah ku setiap minggu biasanya diadakan kegiatan untuk siswa/i Kristen Protestan dan kristen katolik: ibadah.
Kami biasanya meminjam kelas 10-E dan hal ini sudah diketahui dan ditanggapi baik oleh pihak sekolah sehingga kegiatan kami berjalan lancar.
........
Setelah beberapa saat kami pun menuju 10-E. Di sana sudah ada Tania dan beberapa kakak kelas kami yang sedang latihan musik.
Cukup lama kami menunggu hingga kegiatan akhirnya dimulai.
"Lis, kok perasaanku nda enak ya?"
"Mungkin cuma perasaanmu aja kali."ucapku mencoba menenangkan
Sepanjang ibadah kami bernyanyi begitu bersemangat.
Di sela-sela kegiatan terkadang ada orang-orang lewat.
"kelas sebelah lagi dibaikin."pikirku tak acuh
Setelah cukup lama bernyanyi bersama, kegiatan inti dimulai.
Saat pertengahan: diskusi, tiba-tiba seorang bapak a.k.a guru datang. Dia lalu berteriak-teriak kepada kami.
"Cepat keluar sekarang. Kalian pakai ruangan ini seenaknya. Tanpa seizin saya. Sudah pulangan daritadi masih juga di sini. Kalau mau ada kegiatan izin sama saya. Cepat keluar. Daritadi nyanyi-nyanyi, ribut-ribut saya biarkan aja dulu. Tau tidak apa yang kalian lakukan ini? Kalian MENCURI!! (NB: baca dengan penekanan tinggi). Mencuri waktu dan tempat. Ayo cepat angkat kaki kalian!"
Beberapa saat kami terdiam.
Kami semua sama-sama kaget dan bertanya-tanya dalam hati.
Bapak itu terus melanjutkan ceramahnya saat kami tidak juga berkutik.
Lalu perlahan kami keluar satu per satu dalam bingung.
"kenapa sih ini, aneh betul?"tanyaku pada Tania yang juga kebingungan.
Aku ingin sekali protes, tapi aku sendiri tidak tau-menahu tentang izin yang dibicarakan karena aku anak baru di sekolahku.
"Tan, ayo sudah kita keluar aja."ucap Nana
"Bapaknya kan suruh angkat kaki. Nih udah."jawab Tania kesal namun akhirnya beranjak keluar.
Bapak itu TERUUUS saja mengoceh ini-itu. Tidak jelas apa yang dikatakannya. Kami berjalan turun dengan berbagai tanda-tanya besar.
Kenapa kami diusir?
Apa benar kakak-kakaknya belum izin?
Tidak bisakah kami DIBERITAHU BAIK-BAIK?
Tidak bisakah bapak itu melihat apa yang sedang kami lakukan?
Sejak kapan diskriminasi mulai menjulang tinggi?
Hatiku terasa sangat kesal. Begitu juga teman-temanku.
Sesampainya di bawah, kakak2 kelas kami mengatakan bahwa kegiatan kami sudah mendapat izin resmi. Tidak ada yang ilegal. Mendengar itu, aku semakin bingung, kesal, marah, sebal. Kami saling bertanya-tanya satu sama lain tentang kejadian tadi. Kakak2 kelas mengatakan agar kami tidak patah semangat. Saat kami mengobrol, Devi dan Nana menyatakan kekesalan mereka. Betapa kami tidak dihargai. Akhirnya, kami pulang dengan tampang mendung. Baru kali ini aku DIUSIR.
-THE END-
Langganan:
Postingan (Atom)